RSS

DI BAWAH POHON BERINGIN


hai hai,,,, udah lama ku ga posting blog. heheeee... maaf ya kawan-kawan... oia berhubung ada tugas menulis drama dari guru bahasa indonesia aku, akhirnya aku posting deh... nih nih,,, monggo dibaca....
lama aku ga Suatu hari, setelah adzan ashar berkumandang, dua orang lelaki bujangan duduk di bawah pohon beringin, tempat di mana mereka menghabiskan hari sebelum matahari terbenam. Mereka duduk dengan menyelonjorkan kaki dan menghisap sebatang rokok yang di pegang di tangan kanan mereka. Tepat 10 meter dari tempat mereka duduk, terdapat antrian pembagian sembako gratis dari masjid Jami’ Khusnul Khotimah.
Tigor : hey Jun! (sambil menepuk bahu Junet)
Junet : Apa? (melihat Tigor sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya)
Tigor : Lihatlah wanita itu!
Junet : Wanita yang mana?
Tigor : Itu tuh, wanita yang sedang mengantri. (menunjuk antrian)
Junet : Semuanya juga wanita, Gor! Semuanya sedang mengantri.
Tigor : Ah kau, wanita yang masih muda lah! Masa nenek-nenek?
Junet : Yang mana sih? Semuanya juga cantik menurutku. Hahaha
Tigor : (berbicara dengan logat Batak dan sedikit kesal) Susah benar bicara dengan orang macam kau!
Junet : Hahahahaha…. Aku serius Bung! Wanita mana yang kau maksud? Kan sudah kodratnya semua wanita itu terlahir cantik dan sempurna oleh Tuhan.
Tigor : Yang memakai baju merah muda dan berkucir kuda. (kembali menunjuk wanita di antrian)
Junet : Maksudmu wanita yang berdiri di depan nenek Halimah? Namanya Lilis.
Tigor : Yoi!
Junet : Namanya Lilis.
Tigor : Hey, kau kenal dia, Jun? (ekspresi bingung dan penasaran)
Junet : Tak kenal benar sih.
Tigor : Lantas?
Junet : Dia pernah ke rumahku untuk pinjam uang pada Abah.
Tigor : Pinjam uang untuk apa?
Junet : Mana aku tahu! Aku bukan tipe orang yang suka ikut campur masalah orang.
Tigor : Oh. Seringkah dia pinjam uang pada Abahmu?
Junet: Hmmmmmh… (meletakkan jari di dagu sambil memandang ke atas) Cukup sering sih. Tapi Abah sering mengikhlaskan uang yang ia pinjam. Katanya sih kasihan.
Tigor : jadi dia orang tak mampu toh?
Junet : Kau buta ya? Kalau dia mampu, mana mungkin dia mengantri untuk dapat sembako gratis! Ah, kau ini!
Tigor : oh iya ya.. (menghirup rokok yang tinggal sepanjang kelingking)
Junet : Dasar Lemot!!
Tigor : Apa kau bilang? (dengan emosi siapa melayangkan tinju ke muka Junet)
Belum sempat tinju alaBatak mengamuk mendarat di muka Junet, tiba-tiba suara lembut nan rupawan mengalihkan perhatian Tigor dan Junet.
Lilis : Assalamualaikum..
Junet : Eh Lilis! Waalaikumsalam Lis. Ada apa ya Lis?
Lilis : (malu-malu) Emhhh… anu Kang…
Junet : Kenapa Lis? Katakan saja…
Lilis : Apa Abah ada di rumah?
Junet : Kalau sekarang sepertinya tak ada. Tapi, cobalah kau dating ke rumah nanti malam.
Tigor : Mau pinjam duit ya?
Lilis : (menggigit bibir manisnya dengan wajah yang memerah) Anu…. Emh….
Junet : Bicara apa kau Gor?? Tak sopan sekali! Kenal saja tidak!
Lilis : (wajah masih merah dan menundukkan pandangan) Maaf kang saya harus pergi. Emak menunggu di rumah. Assalamualaikum.
Junet dan Tigor : Waalaikumsalam.
Setelah Lilis pergi jauh dan tak terlihat lagi rambut kucirnya, terjadilah perdebatan lagi antara Tigor dan Junet.
Junet : Kau ini bagaimana sih? Wajah Lilis tadi memerah tau! Dasar Batak! Tak bias apa sedikit saja menghargai orang?
Tigor : Ini kan mulutku. Terserah aku mau berkata apa.
Junet : Jika kau seperti ini terus, aku ykin tak akan ada yang mau jadi pacarmu.
Tigor : Siapa bilang? Jangan asal bicara kau ya! Kau ini bukan Tuhan tau! Meskipun aku galak, aku ini masih ngerti soal agama.
Junet : Aku memang bukan Tuhan, tapi faktanya, tak ada wanita yang mau dekat dengan kau. Buktinya Lilis saja sampai pergi.
Tigor diam sesaat. Dia menyadari bahwa perkataan Junet ada benarnya.
Tigor : Memangnya ada ya wanita yang mau mendekati kau?
Junet : Hah?
Tigor : Apa perlu aku ulangi kata-kataku?
Junet : (terkekeh) sebenarnya banyak yang mengantri untuk jadi pacarku. Tapi, aku saja yang belum menjatuhkan pilihan.
Tigor : Oh, macam antrian sembako tadi ya?
Junet : Ya, tapi yang mengantri tentu saja wanita cantik, bukan nenek-nenek.
Sejenak mereka diam. Sesekali mereka mengsihap rokok yang hampir habis dan mengepulkan asapnya ke udara.
Tigor : Kau mau taruhan tidak?
Junet : Taruhan untuk apa?
Tigor : Cari pacar. Kita kan sudah dewasa. Masa tak punya pacar?
Junet : Maksudmu?
Tigor : Jika dalam waktu satu bulan kau belum mendapat pacar, kau harus teraktir aku di warung Bude Titin. Begitu pula dengan aku. Jika aku kalah, aku yang teraktir kau.
Junet : Oke. Siapa takut?
Mereka berdua pun saling tos dan berjalan meninggalkan pohon beringin menuju rumah masing-masing karena adzan maghrib telah berkumandang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Manusia Paling Pintar yang Pernah Aku Temui



hai semua, apa kabar? semoga kalian semua baik-baik saja ya... Amien. well, hari ini aku mau cerita tentang manusia paling pintar yang pernah aku temui sepanjang hidupku.Hehe Ceritanya bermula dari hari Sabtu yang cerah 27 November 2020. Aku pergi ke sekolah untuk mengikuti pelatihan olimpiade Biologi bersama alumni. loh ko sama alumni? yeap, soalnya Pak Bagja, guru biologi bidang kedokteran sedang berhalangan hadir karena harus menemani Kang Deandra pergi ke Surabaya untuk lomba. Aku sampai di sekolah jam 9 pagi, namun belum ada murid-murid peserta olimpiade yang lalu-lalang di sekolah. akhirnya aku bertemu dengan Tami, peserta olimpiade cabang biologi. "Tam, ko belum mulai? Pelatihannya di mana sih?" tanyaku pada Tami.
"Loh, bukannya jam 10.30 ya? Kalau ga salah sih di ruang Avi, tapi Bu Erni bilang di perpustakaan. Tapi ga tau deng,..."
"oh"
"eh aku mau ngerjain tugas Bahasa Ingris dulu ya.., dadah"
"dadah"

Aku sedikit kesal karena aku datang terlalu pagi. akhirnya aku mengerjakan LKS Pkn karena hari Rabu akan diadakan Ulangan Harian. Aku terpaksa menunggu hingga jam 10.30.

Akhirnya waktu menunjukkan jam 10.30. Aku pun bergegas ke ruang Avi. di koridor aku bertemu dengan Ice, peserta olimpiade kimia. Belum sempat sampai ke ruang Avi, Bu Erni langsung menyuruh kami untuk ke Perpustakaan karena ruang Avi sedang dipakai.

Sesampainya di perpustakaan kami (para peserta olimpiade) disuruh membuat lingkaran bersama alumni peserta olimpiade. Ice disuruh bergabung bersama Kang Adit. Aku sendiri bingung harus bergabung dengan siapa karena tak ada satu pun peserta olimpide biologi yang datang. Aku akhirnya bertanya pada Bu Erni.
"Bu, saya bergabung dengan kelompok mana ya bu?"
"kamu olimpiade apa?"
"Biologi bu.."
"oh kalau biologi pelatihnya pa Bagja.."
"loh, bukannya hari ini sama alumni ya bu?"
"ia sih, tapi Kang Iqbal ga dateng"
"yah,,,,,," (aku sedikit kesal)
"ya sudah, kamu gabung sama Kang Adit aja"

Dengan sedikit kesal aku akhirnya bergabung dengan kang Adit dan peserta olimpiade kimia. Aku serasa anak yang dibuang, haha. Aku merasa geje di antara kerumunan anak pecinta Kimia. saat pertama aku melihat Kang Adit, aku berfikir kira-kira umur dia sekitar 27,28, atau berapa lah, yang pasti aku pikir dia adalah seorang bapak yang punya istri dan satu anak (hehe,, maaf kang....). but how can,, dia berusia 21 tahun. Pertemuan pertama dengan beliau hanya perkenalan. Dia bercerita banyak tentang dirinya. begini cerintanya...

beliau bernama Raden Aditya Wibawa Sakti. beliau adalah alumni SMAN 3 Bandung angkatan 2007. so, it means that he is 21 years old. Beliau berasal dari kerajaan Majapahit (nenek moyangnya) pinggiran yang miskin. Saat kang Adit SD, orang tuanya di PHK sehingga untuk makan saja, mereka sekeluarga harus mencari paku di jalanan dan menjualnya. Namun, hasil menjual paku tersebut hanya cukup untuk membeli makan adik, ayah dan ibunya saja. hiks hiks.. Saat masih kecil Kang Adit suka memulung kertas-kertas yang dibuang oleh orang-orang. Beberapa di antaranya adalah tentang Filsafat, wow! Saat umur 7 tahun, seorang Profesor datang padanya dan menanyakan beberapa hal tentang Filsafat, dan yap,, kang Adit dengan lancarnya dapat menjawab pertangaan itu.

Beliau cerita kalau dirinya sangat jarang belajar. Kalaupun belajar, beliau lebih suka dengan melihat langsung fenomena. Saat SMA pun Kang Adit belajar jikalau temannya meminta bantuan untuk belajar. Itupun materinya baru dibaca 5 menit dan jreeeng.... langsung ngerti. Di SMAN 3 Bandung, Kang Adit ga suka sama guru kimia bernama Bu Ika (hehe). Kang Adit mendapatkan nilai 40 untuk kimia karena beliau malas mengerjakan soal dari guru kimia bernama Ika. Karena jeleknya nilai ini, Kang Adit ingin mengikuti olimpiade kimia. Bu ika, si guru Kimia yang menyebalkan ini merendahkan Kang Adit dan bilang : " kamu ga akan bisa menang" . eh, tanpa di duga-duga kang Adit memenangkan medali perunggu. Honestly, kang Adit bilang dengan santai: " sebenarnya saya bisa memenangkan emas, tapi saya sudah malas mengerjakan. saya malah makan, hahahahahahaha". And you know what, sekarang Kang Adit sedang menempuh pendidikan S3 dan menjadi dosen bu Ika, si guru Kimia menyebalkan itu. Hahahaha, I can't laugh anymore. Kalau aku adalah Bu Ika, pastilah aku akan malu.

oh ia, IQ kang Adit adalah 210 !!!!!!! how can? what a genius human he is! psikologi sampai bilang " kamu itu sebenarnya apa sih?" Namun, karena tingginya IQ, beliau terkena penyakit jiwa apaaaaaaa gitu. Tapi sekarang udah sembuh ko. Karena kepintaranya ini, kang Adit bisa meramalkan senyawa atau atom atau molekul atau apa gitu ya... secara komputerisasi. Kang Adit bilang: " 50 tahun lagi, virus HIV bisa dihancurkan dengan Adit's carbene. wooooow....!!! Kang Adit bilang kalau udah sekitar 500 senyawa yang udah beliau ramalkan, dan udah banyak dokter-dokter yang bertanya tentang senyawa padanya.

well, Actually banyak banget hal-hal menakjubkan tentang Kang Adit, but, my hand are too tired untuk mengetik. jikalau kalian bertemu dengan orang ini, kalian sangat beruntung sekali karena dia adalah ORANG TERPINTAR YANG PERNAH SAYA TEMUI




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisi Gadis Kecil

Hi blogger.. Gimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja saat membaca postinganku. Amien.

Udah lama banget aku ga posting tulisanku di blog. Aku jadi jarang online di komputer sejak masuk dunia kelas 2 SMA :) There are so many things to do, hehe. Tapi karena tangan gatel pengen coret-coret blog akhirnya ol di hp deh. So maaf kalo ga ada foto-foto bagus yg bisa di share :)

kali ini aku tulis puisi tentang gadis kecil. Tadinya puisi ini aku tulis buat lomba tulis puisi, tapi karena keterbatasan biaya aku cuma kirim 2 puisi aja (puisi lain akan aku posting lain waktu, hehe).

Aku terinspirasi nulis ini waktu liat gadis kecil yang galau di bawah pohon sambil bawa tumpukan coet yg ia jual. Huu sedih..

So this is it, please enjoy..

Berjalan di atas bulatan fantasi..
Keringat gadis 5mm membasahi permukaan..
Sambil mengusap dahinya, kelopak mata itu mengalami perlambatan untuk menemui tepi satunya..
Udara yang dulu berlari lari melalui rongga hidungnya, kini berjalan lesu..
Cahaya matahari yg menyinarinya tak secerah cahaya kehidupan yang ia punya..
Kehangatan cinta yg ia miliki tak memiliki luas permukaan yg cukup untuk menyelimutinya..
Terlalu sedikit yg tersisa..
Terlalu sedikit yg terasa..

Berdifusi menuju kehidupan dengan kekentalan kalbu yang hipotonik..
Terbuang dari ramainya partikel kehangatan..
Keluar secara paksa melalui membran permeable dan tak bisa kembali..

Kemana kau akan pergi wahai gadis 5mm?
Sendiri mengumpulkan puing puing kehidupan yg tersisa dalam hati..
Entah apa yg terjadi..
Mungkin mengulur waktu untuk menempuh perjalanan bersama malaikat lintas kehidupan..
Mungkin pula mempercepat waktu keberngkatan..
Tak ada yang bertanya..
Tak ada yg ingin tahu
Hanya gadis 5mm dan 2 kaki kecilnya..

Terlalu kecil untuk mengukur tubuhnya..
Terlalu kecil waktu yang ia miliki untuk mengukur tubuhnya sendiri..
Terlalu kecil pula irama detak jantung yang bermusikalisasi dengan harmoni..

Wahai gadis 5mm..
Kutahu kau tak sekecil apa yang kau miliki..
Kekecilanmu membawa pengorbanan besar yang tak ternilai harganya..
5mm di dunia hanyalah nilai skala yang berbanding terbalik dengan apa yang akan kau dapat di kehidupan nanti..

Gadis 5mm..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

EMERALD




hai, aku vera

apa itu emerald?? emerald adalah singkatan dari exploring women from the hidden treasure.
mungkin kalian agak heran mendengarnya. hhehe... acara ini diadakan untuk mensosialisasikan jilbab kepada para murid murid perempuan di Bandung khususnya SMAN3 Bandung.


Acara ini dilaksanakan pada Sabtu 30 Oktober 2010 di aula SMAN 3 Bandung dan aula SMAN5 Bandung. Bintang tamu yang dihadirkan adalah Oki Setiana Dewi (Ana KCB), Teh Iin C, dan Teh Putri. Acara dimulai pukul 10.00 , seharusnya sih dimulai pukul 09.30. lho kenapa? ini dikarenakan bintang tamu Emerald ( teh Oki Setiana Dewi) terjebak macet di daerah Pasteur. hmmmmh....

Acara ini diwajibkan untuk murid kelas sepuluh SMAN 3 Bandung, tapi banyak juga murid-murid kelas sebelas dan duabelas yang ikut. aku sendiri bertugas sebagai panitia acara. mulanya kami panitia acara sedikit pesimis bakal dikit yang dateng, namun dengan terus berikhtiar dan berdoa akhirnya SUBHANALLOH... bayak banget yang dateng.. rencana awal murid dari SMA lain diberi jatah 2 orang, ternyata eh ternyata mereka maksa panitia untuk menambah jatah menjadi 5 orang, tentu saja kami menerima usulan tersebut.

Yang hadir bukan cuma murid-murid SMA saja ternyata!! guru-guru, orang tua murid dan guru-guru yang mengadakan studi banding juga hadir.. SUBHANALLOH... aku dan teman teman sebagai panitia merasa senang dan kewalahan. Tapi kayaknya kebanyakan senengnya.. :) perasaan pesimis pun kini menjadi optimis luara biasa.



mungkin pada saat permulaan acara berlangsung agak garing dan dengan dibarengi sound sistem yang acak-acakan, kami juga sedikit khawatir karena Teh Oki sang bintang tamu belum hadir. Para MC berusaha ngocoblak segaring-garingnya untuk mengulur waktu. para perserta Emerald terluhat tidak fokus. aku dan teman-teman berusaha mengatasi ini dengan menyebar makanan makanan ringan. setelah stengah jam ngocoblak garing akhirnya teh Oki datang dengan gamis cantik berwarna krem. Senyumnya memancarkan keindahan yang memesona. Biasanya artis akan terlihat cantik di TV dan bertolak belakang dengan penampilan aslinya. Teh Oki beda bgt guys... Beliau emang beneran cantik luar biasa. Tinggi, putih, anggun, menawan, dan aaaaaaaaaaaaah, aku iri bgt sama dia.



Banyak gosip beredar bahwa Teh Oki kurang bisa menisi talkshow dengan baik, beliau hanya menang tampang doang. but it was DEFINITELY WRONG!!! gaya bicaranya yang khas bak anak muda jaman sekarang membuat para peserta Emerald dan kami sebagai panitia hanyut dalam perkataannya. SUBHANALLOH.... Teh Oki orangnya tidak kaku seperti banyak orang pikirkan. beliau penuh humor dan ramah. Pokonya kami merasa beruntung menghadirkan bintang tamu seperti Teh Oki.

Setelah selesai Talkshow, kami mengadakan fashion show yang model-modelnya berasal dari murid kelas sepuluh yang kami pilih secara acak. model-model tersebut didandani oleh salon MOZ5 muslimah. What a Beautiful creature!! merela mematahkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa kerudung menutup kecantikan wanita sesungguhnya. mereka cantik!!!

sauvenir yang dibagikan adalah kerudung paris segi empat. kami berharap setelah Emerald selesai para peserta yang belum berjilbab merasa tersentuh dan mulai menggunakan jilbab mereka, ya minimal mereka tak usah membela, cukup kerudung sauvenir dari emerald. amien..



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Love Expectancy

Many people said that we would find love if we were not afraid of opening our heart, although only a little. Diana, one of the students in Symphony High School never felt in love with any boy. Although there were so many boys who wanted to be her boyfriend, Diana considered it as a platonic relationship.

One day, in Diana’s first day as a sophomore, she met someone who could make her eyes stopped blinking. He is tall, bright-skinned, handsome, and looked like George Harrison, the guitarist of The Beatles. Diana felt in love in the first gaze. Since that time, Diana used to day dream about him. She tried to look for his name, his class, his email, and all information about him. And yap… he is Dimas Jairaj, Diana’s senior at school.

Diana tried to make a relationship with Dimas. Everyday they were together and looked like a couple that loved each other. It was definitely what Diana wished, but Dimas neither. Dimas considered Diana just as his sister, also he though that it was just a platonic relationship. Actually Dimas felt in love with Desy, an exchange student from Japan.

Diana didn’t believe with what people said about Dimas. Diana’s face was white in terror. Diana hoped that it was not true. But out of blue, Diana found Dimas was caught red handed with Desy In a mall. They were in date! Diana tried to whitewash her feeling. Diana just could give a little grin to them and said that she was happy and hoped that their relationship would be prolonged and forever. It was definitely a white lie.

Diana tried to forget all about Dimas and thought that Dimas never came into her life. Unfortunately she could not! Diana used to be a single girl until she graduated her doctoral program in the age of 21. She was still in love with Dimas and she used to sing the poem from The Beatles:

I think of him
But he thinks only of her
And thought it’s only a whim
He thinks of her
Oh how long will it take?
Till he had the mistake he has mede?
Dear what can I do?
Baby’s in black
And I’m feeling blue
Tell me oh what can I do??

People did not know what was in Diana’s brain. She didn’t want to open her heart for another boy that was better than Dimas. However Diana didn’t care with that.

Once in the blue moon, while Diana was having her lunch at NannyNanny Restaurant, someone came and out of blue sat in the same table with her. Diana didn’t believe with what she looked at. It was Dimas.

“Dimas?” Diana asked him while her eyes were still stopping to blink.

“yes, it’s me. I hope you still remember me, don’t you?”

“………..” Diana couldn’t say anything.

“I am so sorry Diana. Now I know the truth. I don’t know what to say, but I can’t hide my feeling anymore.”

“I don’t understand what you mean.”

“well.. honestly, I broke up with Desy. I don’t love her anymore.”

“but why? You love Desy, right?” Actually a little smile couldn’t be hidden from Diana’s lips.

“she had an ulterior motive. She didn’t love me. I was just the second in her heart.”

“ ow I’m so sorry to hear that… I hope you will find someone who is better than her.” And definitely Diana wanted herself as the better one for Dimas.

“Diana…”

“ya?”

“I am so sorry, may be in time ago I really used to love Desy and had an opinion that our relationship was just a platonic. But,, since you were not with me, my heart was not in the pink anymore. I started to think about you and I really lo…..” Dimas stopped talking and he inhaled some air deeply. Diana’s heart trembled so fast that her zigomatic bones were shaped in pink color.

“you really what??” Diana asked Dimas.

“love you. Ya, I really love you.”

They were silent for a while.

“you must be kidding me, right?”

“why I have to joke? Don’t you believe me?”

“emh…”

“Diana, I don’t want to be your boyfriend. I just want to be your husband. Do you want to accept my love?” Dimas asked Diana while his hand was holding Diana’s hand. Diana couldn’t say anything. Diana started to cry in paroxysm and shook her head up and down.

“I hope your movement say yes..”

They huge each other and released their feeling. They started to talk about their marriage and place for doing honey moon. Their relationship would not end until the fairy of death separated them.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS