Ketika semua tak seperti dulu..
Tak ada memori lalu teringat..
Terkubur begitu saja..
Hanya aksesoris dunia menghiasi dirimu..
Mental abu yg kau bawa..
Ketakutan akan angin harapan..
menerbangkanmu ke laut kegagalan..
Tak ada yg tak mungkin..
Mengaduk abu menjadi harapan..
Membakar ketakutan tak berujung.
Pijar semangat..
Menghidupkan memori menjadi motivasi..
Membakar bimbang menjadi arang.
Mengabsorpsi keraguan..
Menggumpalkannya menjadi koloid keyakinan.
Menghadapi masa depan..
Secerah cahaya matahari..
Yang bersinar karena aerosol memori..
Bersinarlah!
Tunjukan kekekalan energimu!
Ya, mekanik kehidupan..
Tingkatkan potensial harapan..
Sehingga memperkecil kinetik kegagalan..
Hidup adalah tentang memori..
hiup adalah tentang energi.
Hari baru..
semangat baru..
semua baru....
Tapi tetap meninggalkan memori..
Yang terus memberikan api semangat!
Memori
Idul Fitri
Hahahihi..
Semua orang ketawa ketiwi..
Seperti kunti..
Mereka memamerkan gigi kuning mengkilap..
Gigi kuning karena makan opor..
Menjulurkan jari berkuku kuning..
Meni pedi memijat ayam lulur rempah..
Semua orang bersalaman dengan gaya sama..
Gigi kuning..
Kuku kuning..
Bukan hepatitis..
Apalagi bronkhitis..
Tapi mengemis..
Mengemis maaf..
Anak kecil berteriak..
Menyembunyikan uang di ketiak..
Dan bergaya seperti merak..
Tertawa bahagia..
Menahan kencing kencring yang bergerincing..
Kata maaf diobral..
Diskon besar-besaran..
Belanja asyik berhadiah ampou..
Selamat merayakan Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin..
kehidupan yang sia sia
Bulatan fantasi berputar..
Meninggalkan jejak tanya..
Akan halusinasi kehidupan..
Berdiri di atas kebohongan..
Tertawa dibuai candu..
Membunuh rasa bersalah..
Dicekik kesenangan maya..
Menjauhi kenyataan..
Melupakan hulu..
Berpura-pura tak tahu hilir..
Mengalir tanpa tujuan..
Kehidupan yang sia-sia
Realita Semu
Aku jatuh ke dalam lautan kegelapan malam..
Berenang bersama seluruh angan tentangmu..
Keindahan semu yang memabukkan..
Yang tak akan pernah jadi nyata..
Gelap malam..
Gelap cintaku..
Namun kau adalah rembulan..
Menuntunku ke daratan penuh harap..
Kuikat janji pada matahari..
Cinta sejati yg kuharap kau..
Meninggalkan indahnya malam..
Rajutan harapan yg kau buat..
Meski kenyataan menantiku..
Aku tetap menanti ketidakpastian..
Cinta yang ku harap..
Cinta yang kosong..
Namun begitu indah dibalik sinar rembulan..
Meski realita tak seindah mimpi..
Mimpiku telah membentuk realita..
Realita semu..
Mencintai dirimu..
Aku tahu aku harus pergi menutup kotak mimpi..
Untuk bersanding bersamamu..
Dan mengikat janji..
Ku kan pergi bersama matahari..
Menyongsong realia tanpamu..
Tapi malam tetaplah malam..
Ketentuan alam yang tak akan berubah..
Seperti dirimu..
Yang hadir untukku..
Ketika siang berlalu..
Untuk Pak Sariban Sang Pahlawan
Jangkrik tak menyanyi merdu..
Dan langit bersendawa..
Lelaki setengah abad itu tersenyum dengan jemari kokohnya..
Garis-garis hijau pada tangannya menjadi saksi kejamnya cambukan kehidupan..
Kulitnya kering digoreng keringat..
Tubuhnya hitam diselimuti senyum kebahagiaan..
Dan garis usia menghiasi wajahnya..
Dialah yang mengais..
Menimang dengan kasih sayang..
Dan membawanya ke tempat hangat..
Tempat dimana seharusnya..
Ya... Dialah seorang penyayang..
Penyayang kaum-kaum terbuang..
Yang dibuang begitu saja seakan tanpa nilai..
Meski cacian menghujaninya..
Meski tatapan jijik menginjak-injak tubuh tuanya..
Ia tetap memancarkan cahaya keikhlasan..
Ketabahan jiwa yang menghantarkannya pada tempat paling mulia..
Tempat bagi seorang pahlawan sejati berada..







