Aku Tetap Cantik
Aku cantik..
Dan akan selalu cantik..
Bahkan akan paling cantik..
Meski cinderella datang ke Indonesia..
meski putri tidur kembali tidur..
Meski lady diana kembali hidup..
Aku tetap cantik..
Kecantikanku tidak akan berkurang..
Meski kamu datang..
Bahkan tanpa kamu datang..
Awalnya kau baik..
Kau sapa aku dengan kilauanmu yang menggoda..
Kau ajak aku menyusuri bukit..
Bukit yang semakin lama semakin membesar..
Bukit merah merona yang menggoda..
Bukit yang indah tempat kau mengencaniku..
Tapi menyiksaku!
Tempat kebersamaan kita itu..
Aku tak suka!!
Sangat menyiksaku!
Kecantikanku terancam!
Aku ingin kau pergi dan membawa tempat itu jauh dari memori hidupku..!
Tolonglah!
Pergi......
Pergi......
Aku ingin tetap cantik!
Kau memang sangat mengancam hidupku..
Dengan segala hormat..
Pergilah wahai jerawat!
Karena aku ingin tetap cantik..
Bandung, 17 Agustus 2012
Vera Dianwari
Putarlah!!
Putarlah!
Putar!
Putar lebih cepat!
Putarlah lebih cepat..
Lebih cepat dari butiran debu yang bertransformasi ke lautan di mars..
Oh jam di dinding..
Putarlah jarummu lebih cepat..
Sedetik aku menunggumu disini..
Seperti seharian..
Ah tidak, nampaknya seperti seminggu..
Atau bahkan seabad aku menunggu
Kenapa terasa begitu lama??
Kenapa??
Berkali kukedipkan mata..
Berharap jarum jam bergerak lebih cepat..
Namun hanyalah kau yang berjalan santai sambil tertawa padaku..
Aku tahu aku bodoh..
Menaruh harapan pada jarum jam..
Berharap waktu menjadi lebih cepat..
Tolonglah..
Kali ini saja..
Putar jarum jammu sedikit lebih cepat..
Demi aku..
Aku yang begitu polos ini..
Jangan buat aku menangis karenamu..
Karena aku belum sahur..
Aku lapar..
Aku ingin cepat mendengar bedug maghrib..
Aku ingin buka puasa..
Menenangkan perutku yang mengamuk sejak subuh..
Tolonglah..
Tolong...
Putarlah lebih cepat..
Demi aku..
Bandung, 17 Agustus 2012
Vera Dianwari
Aku Tidak Tahu
apa?
apa?
apa?
apaa?
apaaaaaa??
apa sih????
ya mana aku tau..
lalu kenapa aku menanyakan ini padamu?
entahlah..
kenapa?
kenapa?
kenapaaaaaaa?
kenapa aku begitu ingin tau?
kenapa??
aku benar-benar tidak tau!!!
kapan aku mulai menanyakan hal ini pun aku tidak tau
apalagi dimana aku memulainya,
aku tak tau!
lalu bagaimana??
bagaimana???
ah tak tau ah..
aku tidak tau!
itulah mengapa aku bertanya
karena aku tidak tau
Bandung, 17 Agustus 2012
Vera Dianwari
Sudah Tak Tahan
wajah anak itu..
begitu aneh..
begitu tak karuan..
lebih buruk dari sup basi yang bahkan kucing saja tidak mau memakannya
matanya terpejam..
alisnya menyatu gugup..
hidungnya kembang kempis
mulutnya berusaha menutupi sesuatu..
ah, dan keringatnya membanjiri pantai di muka..
satu..
dua..
tiga,,
anak itu tak mampu lagi menahan...
dan.....
DUUUUUT...
ternyata dari tadi anak itu ingin kentut..
sudah tak tahan...
Bandung, 17 Agustus 2012
Vera Dianwari
Ya Ampun
Ya ampun..
Cantik..
Begitu memesona..
Warna rambutmu..
Pirang bak emas mengkilat-kilat..
Eh, atau coklat?
Ah tak penting..
Warna pun aku tak bisa bedakan karena terhalang aura kasihmu..
Kau gerai rambut panjangmu..
Hingga harumnya menggelitik hidungku..
Mengalihkan duniaku..
Rambutmu beda!!!
Ikal dan sangat menawan...
Membelit aku dalam hangat cintamu..
Membuai asmara..
Membuat hati melayang-layang..
Menenangkan suara perutku...
Menenangkan suara perutku..
Menenangkan suara...
Menenangkan...
Me-ne-nang-kan...
Tenang..
Shuuuuuuut......
..
..
..
..
tiba-tiba terompet sendawa membahana!!!!!!
Dan aku pun kenyang..
Terimakasih cantik..
Kau memang sangat lezat..
Puisi ini saya dedikasikan untuk pahlawan perut saya dikala tak ada uang: mie goreng instan :D
Bandung, 29 Juni 2012
Vera Dianwari








